Wartawan Harus Jadi Contoh Jangan Buang Sampah Sembarangan

Suasana FGD Editor yang digelar AJI Manado di Ruang Redaksi Harian KOMENTAR. (foto: AJI Manado)
MANADO - Masalah sampah di Kota Manado, Sulawesi Utara, merupakan permasalahan klasik yang seolah-olah tak kunjung selesai seiring bertambahnya penduduk. Sehingga perlu dilakukan revisi  aturan dengan memperberat sanksi terhadap mereka yang membuang sampah sembarang dan diekspos di media. Ini diperlukan untuk memulihkan nama Manado yang sempat disebut-sebut sebagai kota urutan kedua di dunia yang membuang sampah plastik ke laut.

Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion  yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado bersama editor media cetak dengan tema "Manajemen Pengelolaan Sampah Dan Upaya Meningkatkan Kesadaran Masyarakat" di Ruang Redaksi SKH KOMENTAR, Jumat (26/08). Tampil sebagai pembicara Kadis Kebersihan dan Pertamanan Manado, Julises Oehlers dan Pemred Harian KOMENTAR, Friko Poli.

Dikatakan Oehlers, ini pemeringkatan Manado sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua sedunia dilakukan sebuah sebuah lembaga internasional. “Parameter yang digunakan mereka dalam menentukan Manado penghasil sampah plastik terbesar kedua memang belum diketahui. Tapi mereka mengkliping berita-berita dan foto-foto koran dan dipamerkan di sebuah lokasi pameran di Amerika Serikat," katanya.

Ia mengatakan Manado sudah menggunakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dimulai dari tingkat rumah tangga lewat proses kumpul, pilah dan olah. Ini dimaksudkan agar sampah yang masih ada nilai guna diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi. Misalnya botol bekas, karton, kaleng atau sampah anorganik lainnya. "Sehingga sampah yang masuk ke TPA Sumompo sudah tak memiliki ekonomi," ujarnya.

Namun demikian hal tersebut diprotes para pengumpul.barang bekas yang tinggal sekitar TPA karena mereka tak lagi mendapat sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Lebih lanjut Oehlers mengatakan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga sangat penting karena saat ini sudah tak mungkin lagi menambah luas TPA karena sudah banyak lahan yang berubah menjadi perumahan. Apalagi saat ini ketersediaan armada dumptruck hanya ada 54 unit dari yang idealnya berjumlah 80-90 unit. “TPA di Manado sudah over capacity sehingga perlu penerapan reuse, reduce and recycle,"  katanya.

Pemred Harian KOMENTAR, Friko Poli saat pemaparan  memberikan contoh dengan berkaca pada negara Singapura yang dianggap sukses membangun kesadaran bagi warganya agar tak sembarang membuang sampah. “Caranya lewat penegakan sanksi yang tegas. Dan ini sebenarnya bisa diterapkan di Manado karena sudah ada perda yang melarang membuang sampah sembarang," ujarnya.

Terkait kebijakan pemberitaan masalah lingkungan dan kebersihan, Poli menyebutkan Harian KOMENTAR memiliki rubrik yang memberitakan masalah lingkungan. “Selain itu sebenarnya di setiap pos daerah juga ada liputan masalah lingkungan hidup. Karena isu ini sering jelas terlihat," timpalnya.

Dalam sesi sharing, wartawan Fernando Lumowa dari Tribun Manado menilai "ditetapkannya" Manado sebagai pembuang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia merupakan alarm bagi media untuk lebih bijaksana dalam pemberitaan terkait sampah. "Karena memang dengan hanya foto saja, sudah sama dengan menghasilkan ribuan kata," tutur Sekretaris AJI Manado ini.

Bahtin Razak dari Harian Indo Post mengusulkan wartawan perlu menjadi semacam kelompok penekan bagi kalangan legislatif agar memberi anggaran yang besar untuk penanganan sampah dan pelestarian lingkungan hidup. “Mereka (legislatif, red) bisa mendapat masukan ataupun ide tentang lingkungan dan kebersihan setelah diadvokasi wartawan. Sebab mereka yang mengatur penentuan besaran anggaran," ucapnya.

Lain lagi dilontarkan wartawati dari Harian METRO Manado, Lynvia Gunde yang mengusulkan Pemkot Manado perlu membuat media sosial yang berisi foto-foto warga yang membuang sampah sembarangan. “Juga yang tak kalah penting agar membuang sampah sembarang termasuk extra ordinary crime. Sebab sampah yang dibuang sembarang dan menumpuk bisa menyebabkan bencana banjir yang berpotensi besar menimbulkan korban jiwa," tukasnya. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar