Mahasiswa Belajar Mangrove di Sekolah Jurnalistik Lingkungan AJI Manado

Mahasiswa yang ikut Sekolah Jurnalistik Lingkungan AJI Manado foto bersama usai kegiatan. (foto: dokumentasi AJI Manado)
MANADO – Sekitar 30 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Utara, belajar seluk beluk mangrove (bakau) di Sekolah Jurnalistik Lingkungan AJI Manado di lokasi Mangrove Park, Bahowo, Kelurahan Tongkeina, Kecamatam Bunaken, Manado, Sabtu (13/08/2016).

“Kegiatan ini sebagai rangkaian dari program journalism in natural resources politics dengan dukungan lembaga donor dari Kanada yakni Development and Peace. Kali ini sasarannya kepada para mahasiswa, terutama pers kampus dan pencinta alam,” kata Ketua AJI Manado, Yoseph E Ikanubun didampingi Sekretaris, Fernando Lumowa saat pembukaan kegiatan.

Puluhan peserta selanjutnya diarahkan melakukan observasi sekaligus reportase ke areal pembibitan dan penanaman mangrove. “Ada beberapa jenis mangrove yang dibudidayakan di Bahowo diantaranya rizophora mucronata, rizhopora apiculata, ceriops tagal dan bruguiera ghimnorrizha,” kata Rio Puasa dari Manengkel Solidaritas yang ikut mendampingi para peserta.

Rio mengatakan, sudah ada lima ratus bibit mangrove yang ditanam di Bahowo. “Di Bahowo ini sudah terbentuk kelompok pengelola mangrove yang diketuai oleh Nova Loho. Mereka melakukan aktivitas pencarian bibit, penanaman sampai dengan proses penjualan mangrove,” katanya.

Setelah tinjauan lapangan, peserta selanjutnya mendapat materi dari Sela, pengurus Manengkel Solidaritas, yang dipandu moderator Rine Araro. Sela memaparkan panjang lebar terkait proyek mangrove park yang sementara dijalankan atas inisiatif empat lembaga yakni Manengkel Solidaritas, AJI Manado, Konsorsium Mitra Bahari, dan PT Tirta Investama Airmadidi. “Mangrove ini punya banyak manfaat ekologis maupun ekonomi. Termasuk sebagai penyangga Taman Nasional Bunaken,” ujar Sela.

Sesi selanjutnya puluhan mahasiswa ini diarahkan untuk menulis berita terkait hasil observasi dan reportase di lapangan, termasuk materi tentang mangrove park. Sebelum menulis, Ketua Bidang Advokasi AJI Manado, Pengasihan Susanto Amisan dan Ketua Bidang Pendidikan AJI Manado, Ady Putong menyampaikan materi terkait kode etik jurnalistik serta tehnik penulisan berita. “Etika jurnalistik ini hal mutlak dipahami dan dijalankan oleh jurnalis dalam tugas-tugas jurnalistik,” ujar Susanto, yang juga wartawan Tribun Manado.

Pada sesi terakhir, peserta yang dibagi dalam lima kelompok diberikan waktu untuk menuliskan berita serta mempresentasikan hasil tulisan mereka. “Kami mendapat pengalaman yang berharga, bisa menambah pengetahuan tentang mangrove serta lingkungan secara umum. Selain itu tentunya juga mendapat kesempatan belajar jurnalistik,” ujar Monica Monintja, salah satu peserta dari Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Universitas Negeri Manado (Unima).

Ketua Bidang Organisasi AJI Manado, Agust Hari pada penutupan kegiatan menyampaikan, kerja-kerja bersama dalam upaya pelestarian lingkungan ke depannya akan terus berjalan, berjejaring dengan kelompok-kelompok masyarakat serta mahasiswa. “Masih banyak kerja-kerja kita ke depannya untuk upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya didamping Asrar Yusuf, Fine Wolajan, dan Franky Salindeho selaku pelaksana kegiatan. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar