Liliyana Natsir, Lulusan SD Hingga Klub Pertamanya yang Kumuh (Bagian 2/habis)


Gedung latihan PB Pisok, klub pertama peraih medali emas Olimpiade Rio 2016. (foto: manadokita)
MANADO – Kesuksesan Liliyana Natsir menjadi juara Olimpiade Rio 2016 tak lepas dari kiprahnya yang ikut latihan di PB Pisok sebagai klub pertamanya di Manado, Sulawesi Utara.

Ironisnya, klub yang beralamat kompleks Stadion Klabat, Kecamatan Wanea, Manado, kini terlihat kumuh.

Gedung berdinding bambu berukuran 30 x 12 cm, terlihat sangat tak layak untuk menjadi lokasi latihan. Jika melihat dari luar gedung sudah usang dan kumuh sehingga sulit menemukan tempat latihan yang telah melahirkan pebulutangkis dunia.

Jika masuk ke dalam gedung, ada empat lapangan bulutangkis dengan kondisi yang memprihatinkan. Lapangan sudah banyak berlubang dan garis lapangan tak terlihat.

Tapi ada yang membanggakan, dimana dinding gedung terpampang guntingan kliping koran dan majalah foto-foto para pebutangkis PB Pisok. Diantaranya dua pebulutangkis papan atas Indonesia, Liliyana Natsir dan Greysia Polii.

Foto mereka berdua paling dominan sejak masih anak-anak hingga sukses diberbagai kejuaraan nasional dan internasional. Atap gedung sudah berlubang dan tak layak jika digunakan sebagai tempat latihan.

Eva Rumokoy, penjaga gedung latihan PB Pisok, mengatakan awalnya tahun 1975 tempat ini sebagai sasana tinju. Kemudian sekitar tahun 80-an berubah jadi tempat latihan bulutangkis.

"Saya sering lihat Liliyana Natsir latihan di sini. Dia memang sejak anak-anak sangat ulet dan kuat. Tampilannya tomboi. Luar biasa dia bermain saat itu," ujar Eva mengenang masa-masa Liliyana Natsir latihan.

Pelatih fisik PB Pisok, Juddy Goni Lapian mengatakan PB Pisok didirikan suaminya Spego Goni. “Tahun 90-an Liliyana Natsir masuk latihan. Kondisi gedung latihan PB Pisok tidak berubah dari dulu. Awalnya, kami hanya pinjam ke Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Istilahnya gedung kita pinjam pakai ketika zaman Wakil Gubernur Sulut, Freddy Sualang. Dan sampai saat ini tidak pernah ada biaya untuk merenovasi gedung. Bawa atlet bertanding pun kami menggunakan uang sendiri meski membawa nama daerah,” ujarnya.

Meski dalam kondisi memprihatinkan, para pemain tetap semangat berlatih. “Saat ini ada 20 atlet bulutangkis usia 12-17 tahun berlatih dengan giat. Ada beberapa diantara mereka masuk level nasional dan bergabung di klub Bimantara Tangkas Jakarta,” katanya.  

Juddy menambahkan, untuk menghidupi PB Pisok hanya berharap dari uang pendaftaran dan iuran setiap bulan anak asuhnya. “Untuk yang baru bergabung pengurus mematok harga Rp200 ribu untuk biaya pendaftaran, baik untuk kelas reguler maupun kelas prestasi. Sedangkan iuran per bulan, dipatok Rp150 ribu kelas reguler, dan Rp200 ribu per bulan untuk kelas reguler ditambah satu dus bola bulu tangkis,” ujarnya.

Meski kondisi gedung memprihatinkan tapi cukup bangga dengan kesuksesan Liliyana Natsir. “Ya, biar gedung begini tapi pernah melahirkan juara Olimpiade. Kami sangat bangga pada Liliyana Natsir dan akan tercatat dalam sejarah klub ini,” kata Juddy.

Dia juga berharap pemerintah daerah dibawa kepemimpinan Olly Dondokambey lebih memperhatikan nasib atlet. “Pokoknya kalau olahraga Sulut ingin maju perhatikan nasib atlet termasuk sarana dan prasarana latihan,” ujarnya mengakhiri pembicaraan. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar