Pakai Sizzy Matindas Batik Jadi Ingat Kampung Halaman

Pemilik Batik Bercerita, Sizzy Matindas Batik menujukkan salah satu batik andalannya yang bercerita soal Kota Bitung. FOTO: agust hari/manadokita
MANADO – Indonesia cukup dikenal di dunia dengan berbagai model dan corak batiknya. Salah satunya ‘Batik Bercerita’ yang berisi soal budaya dan asal usul daerah-daerah di Sulawesi Utara milik Sizzy Matindas yang terbilang unik. Sebab dengan menggunakan batik ini sang pemakai akan mengingat kembali kampung halaman. Bagaimana cerita sehingga Sizzy terjun ke bisnis batik?

Rupanya berawal dari larik lagu daerah Minahasa: Miara si Luri sehingga dia memutuskan untuk terjun total ke dunia batik, terutama mengembangkan batik motif Sulut melalui Batik Berceritanya, Sizzy Matindas Batik. Tekad bulatnya ini berawal dua tahun silam pada bulan Februari 2014, saat dirinya sedang melakukan traveling bersama keluarga.

“Saat itu saya, suami dan putra saya sedang jalan-jalan menuju ke Pekalongan. Selama perjalanan saya mendengarkan lagu daerah. Tiba-tiba saja dalam kepala saya sudah mulai tergambarkan suasana kampung halaman, Nyiur Melambai. Detil khas ini terus terpikirkan hingga liburan kami selesai,” kata Sizzy, Sabtu 21 Mei 2016.

Dia pun berinisiatif untuk berembuk dengan keluarga kecilnya, untuk mendukungnya menjadi desainer motif batik khas Sulut yang lebih menekankan pada gaya batik bercerita. Dimana motif batik bercerita lebih menekankan pada gambar dan permainan warna. “Batik saya, saya namakan Batik Bercerita karena batik yang saya kerjakan adalah saya tulis dan gambar. Objek utama dari batik saya adalah Sulawesi utara, tanah kelahiran,” tuturnya.

Miara Si Luri sendiri artinya sangat dekat dengan warga Minahasa, yaitu tentang memelihara burung nuri yang kiasannya adalah tentang kehidupan bersosial. Dari lagu ini juga karya Batik Bercerita-nya yang pertama. Riset kemudian dilakukan oleh istri tercinta dari Richard JC Rotty mulai dari naik turun Gunung Klabat, mengelilingi Danau Tondano, menyusuri Selat Lembeh hingga trekking ke Gunung Lokon.

Tidak hanya itu saja, wanita lulusan SMA 1 Manado ini, rela masuk kobong (baca: kebun) untuk melihat langsung aksi para pekerja di tampa fufu (tempat bakar ikan) yang menyiapkan kelapa siap pakai di area perkebunan keluarganya. Usai itu, tangannya akan langsung kreatif mengerjakan penggambaran detil batik motif yang telah disaring mata dan otak nya ini dalam desain baru yang indah di sebuah kain, yang rata-rata memiliki panjang sekitar 260 cm. “Untuk satu buah motif saya mengerjakannya sekira 3 minggu,” ujarnya, sembari menyebut bahan baku pewarnaannya adalah bahan natural untuk batik yang ditambah dengan warna-warni hasil kreasinya sendiri.

Membatik sendiri sebenarnya bukan hal baru bagi keluarga Sizzy. Pasalnya, sejak anak-anak dia telah terbiasa melihat beragam motif batik di rumah keluarganya. Sang ibu adalah penjahit terkenal di daerahnya. Mulai Go Internasional tahun 2015, bisa disebut sebagai tahun yang baik untuk membuka jalan bagi Batik Bercerita.

Di tahun tersebut, Sizzy mendapat kesempatan untuk mendesain motif batik oleh penyelenggara event kopi terbesar di Amerika Serikat (AS), yang terkesan dengan motif Batik Bercerita tentang Tarian Kabasaran dari Minahasa dan motif tumbuhan yang menjadi asal muasal kata Bitung, Si Witung. “Salah satu staf Konsulat Jenderal di AS yang menghubungi saya langsung. Dia menyebut salah satu buah tangan milik saya yang mereka terima, ternyata menarik para EO dari ASEAN yang akan ikut pada event kopi di AS. Dan saya ditawarkan untuk mendesain syal akan diberikan pada para pejabat dan tamu undangan dieven tersebut. Tentu saja saya tidak mau melewatkan hal ini,” sebut lulusan D3 Teknik Grafika, Universitas Trisakti ini.

Kesuksesan iven kopi ini juga membuatnya banjir permintaan dari kalangan diplomat, terutama diplomat ASEAN.

Melalui Meriset

Ini motif batk bercerita soal Kabasaran. FOTO: agust hari/manadokita
Walau Batik Bercerita bermotif Sulut mulai mendapat tempat di hati pecinta batik Nusantata, namun wanita yang juga aktif di ‘Yayasan Torang Samua Basudara’ ini tidak mau cepat puas. Riset yang mendalam tentang Nyiur Melambai terus dilakukannya, selain terus memuluskan gaya berbatik-nya. Bahkan dia berkeinginan turun ke daerah Sangihe, Talaud dan Sitaro untuk membuat motif dari tiga daerah kepulauan tersebut.

“Untuk belajar batik, saya memilih pada para pengrajin tua yang ada di Solo, Yogjakarta, Pekalongan hingga Cirebon. Dan setiap kesempatan teknik teknik tersebut terus saya pelajari, karena membatik itu bukan hanya sekedar melukis. Perasaan, hati, otak dan tangan harus selaras. Jika tidak maka hasilnya tidak maksimal,” ungkap ibu dari William NJ Rotty. Untuk setiap batik karya Sizzy sendiri dihargai mulai dari sekira Rp 500.000 hingga Rp 5 juta. Dengan pilihan motif yang lekat dengan tanah Nyiur Melambai. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar