764 Warga di Perbatasan Filipina Terancam Kelaparan

Salah satu kapal perintis yang berlayar ke pulua-pulau. FOTO: kompas.com
MANADO — Ancaman kelaparan melanda masyarakat Kecamatan Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Pasalnya, kapal perintis hingga saat ini belum masuk disalah satu pulau terluar Indonesia Bagian Timur itu yang dihuni 764 warga atau 255 kepala keluarga.

 Armada perintis terakhir masuk Pulau Miangas awal Desember 2015, sehingga ketersediaan bahan makanan pun kian menipis. “Diperkirakan stok bahan makanan warga tak sampai dua minggu lagi,” ujar Camat Miangas, Steven Edwin Maarisit, belum lama ini.

 Miangas termasuk salah satu pulau terpencil di Sulut. Dibanding daerah induknya Talaud, jarak pulau ini lebih dekat dengan Filipina —hanya sekitar 4 jam menggunakan speedboat. Sementara ke Melonguane ibukota Kabupaten Talaud membutuhkan waktu 6 jam perjalanan laut. Terakhir menurut Steven, hanya KN Sabuk Nusantara yang buang sauh di dermaga Miangas pada 26 Desember 2015 lalu.

Setelah itu tidak ada lagi pelayaran armada perintis masuk ke sana. Miangas terisolir akibat kondisi itu, mengakibatkan ketiadaan suplai bahan makanan. Warga bertahan dengan hasil bumi dan sisa-sisa bahan yang sudah ada sebelumnya, namun semakin menipis. “Pernah ditawarkan pihak terkait Miangas dilayari kapal feri, tapi saya tolak soalnya kondisinya tidak cocok, ombak di sini tinggi jadi sulit kapal feri masuk,” kata Steven.

 Kepala Dinas Perhubungan Sulut, Joy Oroh, beralasan situasi itu terjadi karena ada pengalihan operasi kapal-kapal perintis yang dulunya ditangani pihak ketiga atau swasta, sekarang diatur PT Pelni. "Jadi menunggu Perpres yang baru keluar, diharapkan minggu ini 4 kapal sudah beroperasi,” kata Joy.(agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar