221 Imigran ‘Nginap’ di Rudenim Manado Mayoritas Korban Politik

Rumah Detensi Imigrasi Manado. FOTO: manadokita.com
MANADO – Hadir di Manado, Sulawesi Utara, sejak tahun 2006, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado hingga kini total telah menampung 221 imigran (215 laki-laki dan 5 perempuan) dari berbagai negara di dunia. Imigran asal Afganistan terbanyak yang ‘nginap’ yakni 134 orang laki-laku dan 5 perempuan.

Kemudian disusul negara tetangga Indonesia, Filipina sebanyak 60 orang (59 laki-laki dan 1 perempuan). Selanjutnya, Somalia 5 orang, Sudan 2 orang, Myanmar 2 orang, Pakistan 4 orang, Bangladesh 2 orang, Etopia 4 orang dan sisanya Irak, Iran dan Eritrea masing-masing 1 orang. 

Kepala Rudenim Manado, Hasrullah mengatakan mayoritas imigran adalah korban politik dan pelaku illegal fishing. “Imigran asal Filipina ditangkap karena illegal fishing di perairan Indonesia. Sedangkan imigran dari Negara lain merupakan korban politik di negara mereka. Mayoritas para imigran ini enggan balik ke negaranya lagi,” ujarnya, Selasa, 9 Februari 2016.

 Rata-rata penghuni Rudenim Manado tak mau ‘pulang kampung’ dan merasa betah tinggal di Manado. “Ada imigran yang pernah tinggal di sini dibawa ke Sumbawa, eh balik lagi ke Manado dan tinggal sampai sekarang. Bahkan ada dua keluarga (suami, istri dan anak-anak) sejak 2009 tinggal di Rudenim Manado. Anak-anak mereka malah sekolah dan kuliah di Manado. Kuliah 3 orang, duduk di bangku SMA 2 orang, SMP 1 orang dan TK 1 orang,” papar Hasrullah.

 Sejauh ini lanjut dia tidak ada persoalan berarti yang pernah terjadi seperti kisruh sesama penghuni atau masalah lainnya. Meskipun personil Rudenim hanya 44 orang, pengawasan tetap berjalan lancar. “Sabtu dan Minggu para imigran ini diberi kebebasan untuk jalan-jalan namun dalam pengawasan ketat. Setiap hari aktivitas mereka selain makan tidur juga diselinggi dengan les Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, gitar dan lain-lain. Sorenya mereka olahraga futsal, bola voli, hingga basket.

Itulah membuat mereka betah di sini. Apalagi anggaran ditanggung International Organisation Migran (IOM), organisasi di bawah naungan PBB. Kepala Divisi Keimigrasian Kementerian Hukum dan HAM Sulut, Tieldwight Sabaru mengaku proses deportasi para imigran ini membutuhkan waktu yang panjang, termasuk negara yang menerima mereka kelak. Tak heran kata dia, ratusan imigran itu lebih ‘enak’ hidup di Manado dibandingkan harus pulang ke negara asal mereka. “Dan negara harus hadir tak boleh diam dengan persoalan ini, kendati biaya kehidupan mereka ditanggung PBB melalui IOM,” ujarnya. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar