Masalah Lingkungan Tanggung Jawab Bersama

Lumpur panas di lokasi pengeboran panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong, di Kelurahan Tondangow, Kecamatan Tomohon Selatan, Sulawesi Utara. FOTO: manadokita.com
MANADO - Lingkungan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak lingkungan yang rusak karena alam bahkan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

 Pada 2015 yang lalu, musim panas terjadi selama beberapa bulan yang mengakibatkan banyak hutan yang kering, lahan pertanian dan perkebunan warga tak bisa digarap akibat tak cukup air bahkan terjadi kebakaran hutan. Tak bisa dipungkiri, manfaat hutan sangat besar bagi manusia. Seperti mencegah erosi dan tanah longsor, menjaga keseimbangan air di musim hujan dan kemarau, menyuburkan tanah, bahkan mengurangi polusi untuk pencemaran udara karena tumbuhan mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh makluk hidup. 

Pencemaran lingkungan harus menjadi perhatian yang serius saat ini. Meningkatnya kegiatan industri seperti pertambangan telah banyak mengganggu ekosistem lingkungan hidup. Bahkan baru-baru ini terjadi di Kota Tomohon, lumpur panas menyembur dari lokasi pengeboran panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong, di Kelurahan Tondangow, Kecamatan Tomohon Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

 Meski pihak perusahaan menjamin lumpur itu tidak beracun, namun masyarakat tetap saja khawatir. Apalagi areal pertanian mereka rusak akibat semburan lumpur itu. Pantauan di lokasi semburan lumpur, pihak PT PGE secara ketat menghalangi setiap warga yang hendak masuk dan mendekat ke wilayah itu. Tak hanya itu, police line juga dibentangkan untuk menghambat akses warga. Padahal perkebunan warga juga terletak di wilayah tersebut.

 Dampak dari semburan lumpur itu tak hanya mencemaskan warga Kelurahan Tondangow, melainkan juga masyarakat di Desa Leilem, Kecamatan Sonder, Kabupaten Minahasa. Apalagi warga desa yang berada di bawah lokasi pengeboran panas bumi mengeluhkan tercemarnya sumur-sumur mereka.

 Kepala Humas PT PGE Lahendong Dimas Wibisono mengakui, semburan lumbur dari beberapa titik di lokasi pengeboran panas bumi masih terjadi. Pihaknya menutup akses ke lokasi semburan. Jangan sampai warga terkena dampak dari lumpur panas tersebut. Meski demikian, Dimas tetap memberikan jaminan bahwa lumpur itu tidak beracun dan tidak ada korelasi langsung antara pekerjaan pengeboran yang dilakukan pihaknya dengan semburan lumpur di lokasi itu. Pihaknya, kata dia, sudah memeriksa kondisi pipa baja, bahkan hingga kedalaman 1600 meter.

Hasilnya memang tidak ada kebocoran pipa. Banyaknya persoalan terkait lingkungan, media dituntut bisa mewartakan isu tersebut bukan seperti LSM bahkan ormas. Selain itu, masyarakat bahkan pihak terkait diharapkan mampu menyelesaikan masalah lingkungan yang berhubungan dengan kehidupan orang banyak. Apalagi di Sulawesi Utara, ada organisasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Sulawesi Utara. Diharapkan, IAITB mampu memberikan solusi bahkan masukan terkait masalah lingkungan hidup di bumi Nyiur Melambai ini. (Evangline Aruperes)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar