Pembalakan Hutan, Mata Air Warembungan Terancam

Penulis bersama tokoh masyarakat Warembungan. FOTO: Denny Wowor/Koran Sindo Manado
MANADO – Bencana kebakaran hutan di kawasan Cagar Alam Gunung Lokon yang terjadi beberapa waktu lalu, ikut juga menghanguskan sejumlah besar kawasan hutan di lokasi mata air Kumahukur. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara Noldy Liow, luas daerah yang terbakar di Cagar Alam Gunung Lokon sekira 30 hektare.

Sumber mata air Kumahukur terletak di desa Warembungan Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Sumber mata air ini merupakan salah satu dari tiga sumber mata air yang dikelola PT Air Manado yang menyuplai air bersih bagi warga di Kota Manado. Dua sumber mata air lainnya yakni sumber mata air Koka yang terletak di Desa Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa yang dibangun pada tahun 1995 dan sumber mata air Malalayang di Kelurahan Malalayang, Kota Manado yang dibangun pada tahun 1982.

Ditemui wartawan, tokoh masyarakat Desa Warembungan Paul Max Mokoginta menuturkan, Bron Kumahukur di Desa Warembungan dibangun pada tahun 1922. “Sumber mata air Kumahukur sudah dari jaman penjajahan Belanda dibangun untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga Kota Manado,” terang bapak berusia 81 tahun ini. Dijelaskan Mokoginta, dari tahun ke tahun debit air di sumber mata air Kumahukur dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.

“Dulu untuk air buangan dari sumber mata air Kumahukur sangat banyak jadi anak-anak sering bermain dan mandi di situ, sekarang air yang mengalir di buangan itu sudah tidak ada lagi,” ungkapnya. Sejak jaman penjajahan Belanda, sumber mata air Kumahukur sangat dijaga pelestariannya. “Dulu ada yang namanya Manteri Kehutanan yang bertugas mengawasi dan menjaga lokasi sumber mata air Kumahukur, namanya Pak Supit. Saat bertugas beliau naik kuda dengan Kelewang yang menggantung di pinggangnya,” tutur Mokoginta.

Salah satu media cetak lokal di Sulut dalam ulasannya 6 Maret 2007, mengungkapkan fakta tentang pembalakan hutan Warembungan yang diduga dibeking oleh pihak BPN dan Kehutanan. Pembalakan di hutan Warembungan memang dilarang. Menurut Mokoginta, saat ini sudah ada peraturan ketat dari pemerintah desa untuk menjaga kerusakan hutan disekitar lokasi sumber mata air. “Dulu bukan hanya para pembalak hutan tapi penambang emas juga ada tapi dilarang oleh pemerintah desa,” ujarnya. 

Lanjut Mokoginta, pada saat musim kemarau beberapa waktu lalu, hutan di sekitar mata air yang dipenuhi pohon banyak yang terbakar dan mati. Sementara inisiatif untuk melakukan penanaman pohon kembali baru dilakukan Pria/Kaum Bapa (P/KB) GMIM. “Kami berharap pemerintah dan pihak terkait lainnya bisa kembali melakukan penanaman pohon kembali di lokasi yang mengalami bencana kebakaran hutan,” pintanya, sembari menambahkan disamping perlu ada penanaman kembali pohon yang mati, Bron Kumahukur juga perlu dibangun kembali, karena diduga Bron tersebut sudah banyak mengalami kerusakan.

“Umumnya warga Desa Warembungan mengunakan air dari PDAM dan walaupun mata air Kumahukur berada di Desa Warembungan, tak jarang kami juga kesulitan mendapatkan air bersih,” ucapnya. Senada dengan Mokoginta, Bernard Maramis warga Desa Warembungan menuturkan, sebagai salah satu sumber mata air yang menyuplai kebutuhan air warga Kota Manado, pemerintah dan semua pihak terkait harus tetap menjaga kelestarian hutan di Desa Warembungan. “Sudah sejak dari jaman penjajahan Belanda mata air Kumahukur sudah digunakan Belanda untuk menyuplai kebutuhan air bersih warga Desa Warembungan dan warga Kota Manado,” ujar bapak berusia 79 tahun ini.

Selain PT AIR yang dulunya bernama Perusahaan Daerah Air Minum, di Desa Warembungan juga terdapat empat perusahaan air minum. “Perusahaan air minum di sini pada umumnya menyuplai air bersih ke tempat pengisian air isi ulang,” terangnya. Selain memiliki sumber mata air, di desa ini juga terdapat usaha pertambangan Galian C yang dikelola warga Desa Warembungan. “Di sini memang ada tambang Galian C tapi selain jumlahnya tidak seberapa, lokasi tambang itu berada jauh dibawah lokasi sumber mata air Kumahukur,” kata Maramis. Sementara itu, Hukum Tua Desa Warembungan Alexander Wongkar menjelaskan hutan merupakan wadah penahan air yang sangat diperlukan dalam kelangsungan hidup. “Keberadaan air dan hutan itu berbanding lurus. Jika hutan semakin menipis, maka tak ada yang bisa menampung air akibatnya adalah cadangan air tanah akan berkurang,” pungkasnya.(sumber: manado green)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar