Balai TNBNW Gelar Lomba Pengamatan Burung Pertama di Indonesia Timur

Peserta lomba pengamatan burung sedang beraksi. FOTO: panitia
TAMBUN - Puluhan peserta Birdwatching Race atau Lomba Pengamatan Burung begitu bersemangat saat menelusuri rute yang sudah dipersiapkan Panitia di Site Maleo Tambun, Jumat (18/12/2015).

 Dalam rilis yang dikirim ke manadokita.com disebutkan, lomba yang digelar oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) itu merupakan lomba pengamatan burung pertama kali yang digelar di Indonesia Timur. “Karena ini untuk pertama kali di Indonesia Timur, kami berharap lomba serupa bisa kami gelar setiap tahunnya," ujar Kepala Balai TNBNW, Ir Noel Layuk Allo MM. 

Noel menjelaskan bahwa lomba tersebut bertujuan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki Sulawesi Utara dan Gorontalo terutama yang berada di dalam kawasan TNBNW. “Kawasan TNBNW melingkupi areal seluas 287.115 hektar di dua provinsi yakni Sulut dan Gorontalo. Di kawasan ini sedikitnya terdapat 32 jenis mamalia, 192 jenis aves, 28 jenis kupu-kupu dan berbagai flora khas dan endemik Sulawesi," jelas Noel.

Sebelum berlomba peserta diberi arahan di Kantor Balai TNBNW. FOTO: panitia
Tentu tugas menjaga itu semua bukan hanya dilaksanakan oleh Balai TNBNW tetapi harus pula melibatkan partisipasi dan kesadaran masyarakat, agar kekayaan kehati itu terus lestari. Oleh karena itu Balai TNBNW yang bekerjasama dengan Enhancing Protected Area System in Sulawesi (E-PASS) serta beberapa mitra lainnya antara lain Wildlife Conservation Society (WCS), Celebes Biodiversity (Celebes) dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) f/21 menggelar Festival Konservasi 2015. Birdwatchig Race merupakan satu dari sekian kegiatan yang digelar pada festival yang dilaksanakan sepanjang bulan Desember tersebut.

"Peserta Birdwacthing race berjumlah 11 peserta yang terdiri dari dua kategori yakni pelajar dan umum. Kami senang karena ada peserta yang datang dari Palu," jelas Iwan Hunowu dari WCS. Terdapat 3 tim pelajar dan 8 tim umum yang merupakan utusan UNSRAT, UNTAD, KMPA Kotamobagu dan Universitas Dumoga Kotamobagu.

Masing--masing tim terdiri dari 3 orang yang berlomba mengamati burung di rute yang sudah ditentukan. Lomba dimulai pagi hari dengan tantangan melihat burung sebanyak mungkin, lalu mendeskripsikannya dalam lembar kerja pengamatan. Tidak itu saja, para peserta harus bekerja kompak agar tim bisa mengidentifikasi burung apa saja yang dilihat, dan menggambar sketsanya. "Ini merupakan inisiasi awal di Sulut, karena di Jawa lomba semacam ini sudah sering dilakukan, padahal kita memiliki jenis burung endemik yang cukup banyak. Kami berharap tahun-tahun kedepan lomba ini tetap dilaksanakan," harap Marthin Makarunggala dari Celebio. (*/agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar