“Tuhan, Jangan Hukum Kami Lebih Berat..”

Kondisi pohon saat kebakaran Gunung Klabat. FOTO: Finda Muhtar
MINUT, MANADOKITA.COM - DIANE Massie hanya bisa menatap Gunung Klabat dengan raut sedih. Dulu, Klabat menjadi primadona Kabupaten Minahasa Utara (Minut) karena selalu tampak hijau melambai dari kejauhan.

Puncak Gunung Tamporok-sebutan lain Klabat-mempunyai kepundan berbentuk danau kecil dengan air yang sangat jernih. Kini, yang dilihat tinggal pohon-pohon kering yang hangus terbakar. Sudah lima bulan api memporak-pondakan kecantikan gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara itu.

“Kalau dari desa kami, Gunung Klabat dulunya terlihat sangat indah. Sekarang sudah seperti ini. Tinggal sedikit pohon hijau menjulang, paling banyak tinggal ilalang kering serta kayu-kayu pohon bekas terbakar juga asap dimana-mana,” kata warga Desa Klabat Kecamatan Dimembe itu.

Desa Klabat merupakan satu dari dua jalur utama pendakian ke puncak Klabat. Jalur yang kedua adalah dari Kaki Dian, di Kelurahan Airmadidi Atas Kecamatan Airmadidi. Hanya saja, para pendaki lebih banyak memilih jalur Desa Klabat karena jalannya tidak terlalu menanjak sehingga bisa ditempuh kurang dari 8 jam berjalan kaki.

Saat musibah kebakaran, jalur ini ditutup untuk umum. Hanya tim relawan pemadam api yang bisa masuk. Itupun usai mendapat izin dari Posko Pemadaman Klabat. Musibah ini disesalkan banyak pihak, khususnya masyarakat yang bermukim di Desa Klabat. Mereka paham betul, ada ancaman lebih besar dari sekedar kebakaran hutan.

Menurut Diane, beberapa kali warga desa mendengar dentuman keras dari arah gunung. “Setelah dicek, itu adalah longsor pasir dan bebatuan di bagian jurang gunung, bunyinya sangat kuat,” kata Diane. Ibu dari dua anak ini mengatakan, ia dan warga desa lain kini dihantui kecemasan akan bencana tersebut.

“Menurut cerita orangtua, Dulunya pernah terjadi longsor hebat dari Gunung Klabat. Material seperti pasir, batu dan air sempat merusak permukiman warga. Kebakaran dan kekeringan yang terjadi selama ini menjadi teguran bagi umat manusia untuk berbenah diri. Semoga musibah ini segera berakhir dan tidak ada longsor pada musim hujan nanti. Tuhan, jangan hukum kami lebih berat,” kata Diana memanjatkan doanya.

ANCAMAN LONGSOR DASYAT


Kondisi pohon setelah kebakaran. FOTO: finda muhtar

Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Minut selang lima bulan terakhir baik lahan hutan serta lahan perkebunan, memang mencemaskan banyak pihak. Data dari Dinas Kehutanan (Dishut) Minut, hingga pekan ini, sedikitnya telah hangus 2500 hektar (Ha) wilayah hutan yaitu hutan konservasi, hutan produksi terbatas, dan hutan lindung.

Jumlah ini belum termasuk belasan ribu hektar lahan perkebunan milik warga yang juga ikut terbakar di perkebunan Toka, kaki Gunung Klabat. Gesekan daun dan batang pohon yang telah kering sangat rawan menimbulkan kebakaran. Apalagi, masih banyak petani yang membuka lahan baru dengan cara membakar, ditambah dengan teknik perburuan hewan dengan cara pengasapan.

Akibatnya, warga Minut kini dikepung asap pembakaran hutan Klabat. Banyak satwa langkah ikut punah karena terpanggang. Ini juga mengancam ekonomi Provinsi Sulut khususnya dalam bidang transportasi udara. Tapi, ancaman bencana tidak sampai disitu.

Masyarakat Bumi Klabat harus bersiap-siap menghadapi ancaman longsor dahsyat yang bisa terjadi saat musim penghujan yang diprediksi turun menjelang tahun 2016. “Potensi longsor pasir dan bebatuan di musim penghujan nanti sangat besar. Karena saat ini daya resapan air sudah hampir tidak ada akibat pohon yang sudah terbakar,” kata Komandan Posko Klabat Ops Padam Sulut 2015 Indrakusuma Oley SE.

Apalagi, potensi kebakaran hutan Gunung Klabat semakin besar. Dimana, sesuai hasil pantauan Posko Klabat Ops Padam Sulut 2015, saat ini Klabat sedang siaga kebakaran tahap III. “Jika kecepatan angin mencapai 7 knot, kebakaran bisa terjadi kembali,” ujar Komandan Kodim (Dandim) Bitung 1310 Letkol Inf Rofiq Yusuf SSos.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minut dr Rosa Tidajoh mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pemetaan daerah rawan terkena longsoran Klabat di antaranya Desa Klabat, Tatelu, Tumaluntung, dan sejumlah desa di Kecamatan Dimembe dan Kecamatan Airmadidi.

UPAYA KERJASAMA LINTAS SEKTOR

Kondisi kebakaran hebat di Gunung Klabat. FOTO: finda muhtar

Kini, bunyi sirine petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Minut ibarat melodi merdu di telinga warga. Sepanjang hari, 6 unit mobil Damkar Minut nyaris tak pernah berhenti bergerak menyuplai air untuk memadamkan api di lokasi kebakaran yang masih bisa dijangkau. Kadis Damkar Minut Arnolus Wolajan mengatakan, sejauh ini penanganan kebakaran masih dilakukan dengan upaya pendekatan darat dengan ketinggian mencapai 1450 meter di atas permukaan laut.

Kekuatan personalia di Posko Klabat Ops Padam Sulut 2015 mencapai 314 orang terdiri dari Brimob, TNI (712), Kodim 1310, Polhut, Basarnas, Pol PP Minut, Polres Minut, BPBD Minut, Dinas Damkar, relawan dan Dinas Kesehatan Minut. Beruntung, Sulut mendapat bantuan pesawat water bomb (bom air) bantuan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup untuk upaya pemadaman.

“Untuk Indonesia Timur, Sulut provinsi yang pertama mendapat bantuan pesawan pembom air. Bantuan yang sama juga diberikan ke Sumatera dan Kalimantan. Semoga upaya ini efektif secepatnya mematikan bara api,” harap Wolajan. Upaya Pemadaman yang Dilakukan Personel TNI.

Upaya pemadaman yang dilakukan personil TNI. FOTO: finda muhtar

JERATAN SANKSI BAGI PELAKU PEMBAKARAN

Sayangnya, meski diduga kuat kebakaran terjadi akibat ulah manusia, namun hingga saat ini Polres Minut belum berhasil menangkap para terduga pelaku pembakaran. “Tim kami masih terus melakukan penyelidikan di lapangan. Kalau ada warga yang sengaja membakar lahan, akan langsung kami tangkap,” janji Kapolres Minut AKBP Eko Irianto SIK.

Disisi lain, Bupati Minut Drs Sompie Singal MBA tengah mempertimbangkan satu langkah akurat untuk menjerat dan memberi sanksi tegas bagi para pelaku pembakaran. ”Akan kami perhitungkan untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup) untuk pemberian sanksi tersebut. Agar tidak ada lagi yang membakar hutan dan merugikan orang lain,” tegas Singal.

Sebagai langkah antisipasi bencana, Singal juga menghimbau seluruh pengusaha di Minut agar lebih serius menyisihkan anggaran untuk kelestarian lingkungan melalui Corporate Social Responsibility (CSR).

Dana tersebut, guna mereboisasi hutan, membangun fasilitas air, perbaikan irigasi, dan sarana prasarana lainnya untuk masyarakat. Pemkab Minut, lanjut Singal, juga menata dana pada pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2016 untuk penanganan bencana tahun depan. Lebih dari itu, Singal mengakui kesadaran masyarakat dalam menjaga alam adalah langkah paling tepat untuk mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan.

“Aparat kita terbatas. Hanya kesadaran masyarakat saja yang bisa membantu aparat dalam mengantisipasi terjadi kebakaran, mari kita saling mengingatkan,” pungkasnya.(finda muhtar) 
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar