Sampah Sungai Toubeke Tondano tak Pernah Habis

Kondisi sampah di Sungai Toubeke, Kelurahan Tataaran I dan II yang sangat memprihatinkan. FOTO: steven walewangko
TONDANO, MANADOKITA - Masalah sampah di Sungai Toubeke, Kelurahan Tataaran I dan II, Kecamatan Tondano Selatan (Tonsel) Minahasa, tidak akan pernah habis, tanpa adanya perubahan karakter dan kebiasaan buruk masyarakat saat membuang sampah. Hal inilah yang perlu dirubah dan ditekankan, sehingga masalah sampah di Kecamatan Tondano Selatan, yang padat pemukiman akibat bertambahnya tempat kos-kosan mahasiswa Unima, Tondano, bisa terselesaikan.

 Saling tuding antara masyarakat dan pemerintah Kelurahan Tataaran I dan II, diyakini pula tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang sudah bertahun-tahun dan menjadi penyakit kronis di daerah tersebut. Padahal, sejumlah kegiatan bakti sosial dengan melibatkan sejumlah pihak telah dilakukan saat melaksanakan kerja bakti pembersihan sampah di ujung Sungai Toubeke. Selain itu pula, peran aktif dari pemerintah setempat dalam melakukan sosialisasi, himbauan dan sentuhan langsung kepada masyarakat, diyakini pula akan menjadi sebuah terapi yang sangat ampuh dalam menyelesaikan masalah ini.

 Meski seringkali menerima tudingan sebagai daerah penyebab dan pemasok sampah di Kelurahan Tataaran I. Pemerintah Kelurahan Tataaran II, dengan tegas menolak tudingan terhadap warganya. “Kami tidak tinggal diam dan berharap perilaku buruk masyarakat ataupun oknum-oknum tertentu, bisa berubah. Usaha dan upaya telah dilakukan pemerintah Kelurahan Tataaran II,” kata Lurah, Mouna Rengkuan.

 Baik itu berupa pembelajaran membuang sampah di sekolah yang dimulai sejak anak-anak duduk dibangku Taman Kanak-Kanak (TK), SD hingga tingkat SMA telah dilakukan. Untuk tindakan nyata, kerja bakti 30 menit dipekarangan rumah, pengadaan tempat sampah di angkutan umum, menyiapkan tempat sampah khusus di tiap-tiap jaga/lingkungan, pengadaan motor angkutan sampah, hingga melakukan kerja sama dengan Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Minahasa, telah dilakukan pemerintah setempat.

Namun hasilnya sampai dengan saat ini, sampah masih tetap ada dimana-mana bahkan semakin bertambah, karena belum berubahnya karakter dan kebiasaan buruk masyarakat, pengguna jalan umum, warga pendatang maupun mahasiswa Unima yang merupakan kaum terpelajar yang tinggal di tempat kos-kosan. “Karena merasa sebagai daerah korban atau dijadikan tempat penumpukan sampah,” ujar Lurah Tataaran I, Aldrin Lumowa.

Meski begitu dia tetap ngotot pada batas wilayah antara kedua Kelurahan tersebut, dibuat pembatas dengan jaring besi penahan sampah. “Kami berharap asal-usul sampah bisa diketahui berasal ataupun kiriman dari daerah mana. Tentunya, himbauan kepada masyarakat pada berbagai kegiatan kemasyarakat tetap dilakukan sebagai upaya dalam merubah karakter dan perilaku warganya sendiri,” katanya.

 Memang masih dianggap belum cukup, tapi upaya seperti itu patut juga diberi apresiasi sebagai upaya menyadarkan kebiasaan masyarakat yang dipimpinnya dalam menjaga kebersihan lingkungan. Mengamati masalah ini, tidak ada gunanya saling tuding ataupun menuduh siapa yang berbuat, siapa yang menjadi korban ataupun siapa yang salah, siapa yang benar, karena masalah sampah tidak akan tuntas tanpa adanya perubahan sikap dan karakter masyarakat setempat.

 Untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing kelurahan, kesadaran diri sendiri dan pribadi warga setempat menjadi hal yang paling utama dan patut direvolusi mentalnya. Mulai dari kesadaran membuang sampah pada tempatnya, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta saling menghargai dan menjaga perasaan menjadi suatu modal besar dalam menyelesaikan masalah sampah di wilayah Kecamatan Tondano Selatan.

Karena semua itu tidak akan berhasil tanpa dimulai dari diri kita sendiri, adanya saling koordinasi positif dari kedua pemerintah setempat, hingga akhirnya campur tangan dari Pemerintah Kecamatan Tondano Selatan, yang menjadi pembina dua kelurahan tersebut. Dengan mulai memasuki musim penghujan saat ini, sikap dan karakter masyarakat sudah menjadi harga mati untuk di robah total dan dilakukan secara bersama-sama, serta menempatkan masalah sampah sebagai musuh utama yang harus dilawan dan diselesaikan secara bersama-sama pula. Semua itu menjadi harapan kita bersama, untuk menjadikan lingkungan kita bersih dan sehat, sehingga masyarakat terbebas dari masalah sampah yang tidak pernah habis-habisnya.(steven walewangko)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar