Lestarikan Lingkungan, UT Pelopori Penanaman 10 Ribu Bibit Mangrove

Penanaman 10 ribu bibit pohon mangrove di Desa Tarabitan, Minut, melibatkan banyak komunitas. FOTO: istimewa
MANADO, MANADOKITA.COM - Universitas Terbuka (UT) melakukan penanaman 10 ribu bibit pohon mangrove di Desa Tarabitan, Minut, pada 21 November 2015 lalu. Menurut Ikshan Runtukahu, Koordinator Lapangan dari Manengkel Solidaritas, aksi penananaman pohon mangrove ini sejak bulan oktober dan puncaknya dilakaukan pada bulan November 2015. “Jumlah bibit yang sudah ditanam sebanyak 10.000 bibit,” ujarnya.

Sekda Minut, Ir Sandra TP Moniaga MSi yang membuka kegiatan sangat mendukung. “Apalagi bersamaan kami sedang memperingati HUT Minut ke-12, sehingga acara ini sangat kami support mengingat pelestarian lingkungan merupakan tanggungjawab kita bersama,” kata Moniaga.

Senada disampaikan Kepala Bappelitbang Minut, Hanny Tambani. “Kegiatan ini sangat positif,” ujar Tambani. Kegiatan Abdimas Penghijauan yang digagas UT ini sudah dilakukan sejak tahun 2011-2014 baik di kawasan pegunungan maupun pesisir. Tahun 2015 merupakan tahun ke-5 yang dilakukan di Bengkulu, Lampung, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. UT bekerjasama dengan Yapeka dan Kanopi, Pilar, Manengkel Solidaritas, dan Kelompok Tani setempat akan menanam sebanyak 40.000 bibit mangrove dengan jumlah 10.000 bibit mangrove pada masing-masing lokasi. 

Rektor UT, Prof Ir Tian Belawati MEd PhD menyampaikan bahwa saat ini dunia menggantungkan pasokan oksigen dari Indoesia karena itu hutan perlu dijaga dan UT memiliki komitmen kuat untuk pelestarian lingkungan. “Pengabdian masyarakat UT sejak tahun 2011 difokuskan pada penghuiauan dan pendidikan dengan melibatkan anak sekolah dan mahasiswa,” ujarnya.

Deforestasi ini disebabkan berbagai ancaman yaitu penebangan kayu ilegal dan konversi hutan menjadi kolam dan tambak, pemukiman dan kebun kelapa sawit dan pertanian. Kondisi ini berdampak pada semakin kecilnya area berkembangbiaknya populasi ikan. “Populasi beberapa jenis ikan, udang dan kepiting mangrove, sehingga diperlukan perbaikan ke depannya,” terang Belawati.

Sekda Minut, Sandra Moniaga tak mau ketinggalan ikut menanam mangrove. FOTO: istimewa
Direktur Eksekutif Yapeka, Edy Hendras Wahyono menyatakan bahwa mangrove perlu diselamatkan karena memberikan dampak positif bagi masyarakat yang ada di sekitar kawasan. “Perlu didorong pemanfaatan secara berkelanjutan. Misalnya dengan ekowisata serta pendidikan lingkungan,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Ismail, selaku Direktur Pilar, bahwa keberadaan mangrove memberikan nilai ekonomi yang baik bagi masyarakat dibandingkan dengan tidak ada mangrove sama sekali. Tidak bisa dipungkiri bahwa upaya pelestarian pesisir banyak mendapat tantangan karena pembangunan yang pesat selama ini. “Namun dengan tekad yang kuat, pesisir yang terjaga dengan baik akan mendapatkan manfaat jangka panjang,” katanya.

Maruf Erawan, Direktur Kanopi Indonesia mengamini bahwa pemafaatan pesisir dapat dilakukan secara berkelanjutan tidak hanya untuk kebuhan sesaat. Saat ini, perhatian tidak hanya di kawasan dataran tinggi saja atau pegunungan, namun wilayah pesisir perlu mendapat perhatian pula,” ujarnya yang diamini Cynthia dari Manengkel Solidaritas.

Kegiatan penanaman mangrove di Bengkulu, Lampung, Sulut, dan Sulteng maka pelestarian kawasan pesisir di aral mangrove akan membantu memulihkan degradasi yang ada. Dengan melakukan penanaman mangrove berarti kita telah membangun perisai di kawasan pesisir yang rentan, dengan demikian kita juga dapat membangun Peserta yang ikut dalam penanaman puncak di Tarabitan yaitu mahasiswa UT, Mapala Artsas, Mapala Zooxhantellae, Komunitas Motor HMPC, KOMBA, HSFCI dan Vixion. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar