Pengamat: Perlu Kebijakan BI Perkuat Rupiah

Agus Tony Poputra
MANADO, MANADOKITA.COM - Penguatan rupiah pada awal minggu ini merupakan berita baik namun masih rentan. Ini disebabkan penguatan tersebut berasal dari faktor-faktor yang ‘berefek sementara’ terhadap penguatan rupiah.

 Ekonom Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Agus Tony Poputra memandang, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) belum sesuai dengan harapan sebagai faktor pertama. Dampak kondisi ini sangat sementara terhadap penguatan Rupiah sebab bila ekonomi AS kemudian tumbuh sesuai harapan maka Rupiah bisa saja tertekan kembali.

 “Faktor kedua, sentimen positif pasar terhadap rencana Paket Kebijakan Ekonomi Jilid III. Bergulirnya tiga paket kebijakan berturut-turut baik untuk untuk menguatkan rupiah dan telah terbukti. Namun, bilamana pemerintah terlalu jor-joran dalam merilis paket kebijakan ekonomi untuk mengendalikan rupiah maka ke depan Indonesia akan kehabisan peluru bila menghadapi situasi serupa dan dapat memberikan efek terbalik jika paket-paket tersebut tidak jalan. Selain itu, apabila paket-paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan lebih banyak dimanfaatkan oleh asing maka dalam jangka panjang perekonomian Indonesia semakin terjajah hingga semakin mereduksi kemandirian ekonomi bangsa,” terang Agus.

 Faktor ketiga, lanjutnya, intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar spot valas. Intervensi ini cenderung merupakan tindakan reaktif, bukannya preventif. Ini membuat BI terpaksa mengeluarkan cadangan devisa ekstra untuk menahan laju pelemahan Rupiah bila pasar valas bergejolak. Akibatnya cadangan devisa BI dapat tergerus lebih jauh. “Pada dasarnya pengendalian Rupiah yang efektif adalah kebijakan preventif, baik pada sisi penawaran dan permintaan di pasar valas. Saat ini, Indonesia mengalami penurunan penawaran valas terutama US Dollar (USD) sebagai akibat penurunan export dan semakin banyak dana hasil export yang ditahan di luar negeri. Di sisi permintaan, tekanan pembelian USD masih besar, baik untuk transaksi import, pembayaran utang luar negeri, maupun spekulasi,” papar doktor lulusan University of Georgia, Atlanta, AS, ini.

Lanjut dijelaskannya, kebijakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan diskon Pajak Penghasilan atas Deposito hasil export dapat dikatakan sebagai tindakan preventif di sisi penawaran. Lewat kebijakan ini diharapkan semakin banyak hasil export yang balik ke Indonesia untuk menambah penawaran valas. Namun demikian, efektivitas kebijakan ini perlu dievaluasi dalam satu hingga tiga bulan ke depan di mana apakah terjadi peningkatan signifikan deposito dari hasil export pada perbankan nasional. “Di sisi permintaan, BI telah melakukan kebijakan untuk menekan permintaan USD lewat Kebijakan Transaksi dalam Rupiah serta menurunkan batas maksimum pembelian USD. Namun kedua kebijakan tersebut ternyata belum efektif di mana setelah beberapa waktu ditetapkan, Rupiah tetap melemah. Penyebab utamanya adalah pengawasan dan pemberian sanksi bagi pelanggar yang belum optimal serta baru menyentuh transaksi-transaksi kecil,” terang Agus.

 Untuk mendapat hasil yang lebih besar dalam menekan permintaan USD, tambahnya, adalah mencegah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membeli USD di pasar valas dalam rangka pembayaran utang dan transaksi import. Di sini BI perlu menerima hedging atas utang dan transaksi import BUMN dengan kurs lebih rendah dari kurs pasar. Misalnya untuk forward pembelian USD satu bulan diberikan kurs Rp13.800 per USD. Kebijakan ini dapat juga menjadi ‘sinyal’ bagi pasar bahwa target kurs BI untuk satu bulan ke depan sebesar angka tersebut sehingga mendorong para spekulan menjual USD mereka. “Untuk mencegah penyalahgunaan kebijakan hedging tersebut oleh BUMN untuk tujuan spekulasi, maka hedging tersebut perlu didukung dengan bukti-bukti utang yang akan jatuh tempo maupun transaksi impor yang akan dilakukan. Selain itu, kebijakan ini perlu memasukan sanksi bagi BUMN yang membeli USD di pasar valas untuk maksud yang sama. Dengan kebijakan ini maka potensi penguatan Rupiah terhadap USD semakin besar,” ujarnya. (agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar