Media di Sulut dan Skala Prioritas Pelestarian Lingkungan

Para pemimpin redaksi media cetak di Sulut foto bersama usai Focus Grup Discussion (FGD) yang digelar AJI Manado terkait keberpihakan media terhadap isu pelestarian lingkungan, Rabu (21/10/2015). FOTO; AJI Manado
MANADO, MANADOKITA.COM - Sejumlah pimpinan redaksi media cetak di Manado sepakat, menjadikan isu-isu lingkungan hidup sebagai skala prioritas dalam pemberitaan. Kesepakatan ini diambil dalam Focus Group Discussion (FGD) Bersama Pimpinan Media Cetak: "Keberpihakan Media Terhadap Isu-isu Pelestarian yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado dengan dukungan Development and Peace (DnP) Canada di Aston Manado, Rabu (21/10/2015). “Melihat kondisi lingkungan sekitar kita, sudah seharusnya media mengambil sikap memberi porsi pemberitaan lebih terhadap isu-isu lingkungan hidup," ujar Reymoond 'Kex' Mudami, jurnalis senior sekaligus praktisi pelestari lingkungan yang menjadi pembicara dalam FGD ini.
 
Kata Mudami, persoalan kurangnya komitmen yang bermuara pada pemberian porsi pemberitaan isu lingkungan di media disebabkan banyak faktor. Diantaranya, kebijakan redaksi serta dangkalnya pemahaman jajaran redaksi mulai dari tingkat reporter hingga Pemred. "Tetapi, kunci utamanya ada pada pemahaman dan kesadaran pribadi jurnalis, bahwa isu lingkungan itu penting. Ketika kesadaran itu muncul, otomatis porsi pemberitaan akan datang sendiri," kata Kex.

Dia menyebutkan mengapa isu pelestarian lingkungan hidup itu penting? Bicara lingkungan, menyangkut keutuhan hidup mahluk hidup. Benang merahnya jelas, kerusakan lingkungan membawa bencana alam dan berdampak masif terhadap manusia dan ciptaan lainnya. "Jurnalis perlu berpikir visioner, bukan hanya saat ini, tetapi masa depan. Apa yang akan terjadi akan datang dengan kondisi lingkungan dewasa ini yang semakin banyak dieksploitasi tanpa memikirkan dampak ekologi, sosial dan lain-lain," ujarnya. Kex menantang pimpinan media untuk menghasilkan produk jurnalistik mendalam, komprehensif yang melihat sebuah persoalan lingkungan secara menyeluruh dari banyak sisi.

Ia prihatin, sejauh ini media terjebak pada 'jurnalisme dampak'. "Bagaimana media baru memberitakan ketika ada bencana dan dampaknya. Terjebak pada angka-angka korban moril materil dan sangat jarang mengulas, apa sebab akibat kenapa terjadi bencana dan solusinya bagaimana," ujarnya.

Pemateri lainnya, Raymond Pasla, Wapemred Harian Metro dan mantan Ketua AJI Manado menyatakan, media sebagai pilar empat demokrasi kadang abai akan fungsinya sebagai alat sosial kontrol sekaligus pendorong perubahan. “Maksudnya, kekuatan media ada pada daya dorong untuk membuat pemerintah dan pengambil kebijakan menjalankan fungsi sekaligus menghasilkan regulasi, kebijakan yang pro lingkungan," tukas Pasla.

Hal itu, bisa dilakukan melalui kombinasi pemberitaan serta pendekatan lobi (persuasif) dengan para pengambil kebijakan. Bicara jurnalisme lingkungan, Pasla menegaskan, jurnalis lingkungan wajib membekali diri dengan pengetahuan memadai. Reportase lingkungan juga menyangkut penguasaanberbagai bidang disiplin ilmu. “Tak mudah mengawal isu lingkungan. Jurnalis harus menguasai regulasi yang berlaku, kebijakan dan istilah-istilah teknis. Dan, paling penting reportase di lapangan," tegas Pasla.

Sesi diskusi berkembang dinamis. Disamping tanya jawab, para pimpinan media cetak ini berbagai pengalaman soal mengawal isu lingkungan dan tantangan yang dihadapi dewasa ini. Dari sekian banyak usulan dan wacana, semuanya sepakat, forum tersebut perlu dilanjutkan dalam sebuah pertemuan rutin. "Dalam pertemuan-pertemuan semi formal, kita gelar diskusi bergilir di media-media. Topiknya jelas, kondisi lingkungan terkini. Pokok diskusi itu, menjadi acuan pemberitaan media masing- masing," usul Ronald Rompas, Redpel Harian Swara Kita.

Ketua AJI Manado, Yoseph E Ikanubun mengatakan, FGD tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan jurnalis "Journalism on Resource Politic" yang berlangsung September 2015 hingga Januari 2016. Program ini didukung lembaga donor Development and Peace (DnP) Canada.

Kegiatan bertema lingkungan ini meliputi pemberian beasiswa liputan bagi 15 jurnalis, diskusi reguler bersama NGO/LSM dan stakeholder terkait, media monitoring, FGD bersama editor media, media center dan portal berita lingkungan dan kampanye di sosial media. "Kami berharap, setelah ini, ada keberpihakan media, khususnya harian lokal di Manado terhadap isu-isu lingkungan hidup. Persoalan dewasa ini, isu lingkungan masih dianggap 'kurang seksi' dibanding isu politik atau hukum kriminal,' jelas Ikanubun.(*/agust hari)
Share on Google Plus

About agust hari

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar